Rabu, 25 Februari 2015

I Met You Before I Meet You

     “Mereka sepertinya dekat? Mereka menuruni tangga sambil tertawa, tapi saya tak dapat mendengar suara tawa mereka. Laugh in the silence? Tapi saya merasa sangat akrab dengan mereka, terutama yang perempuan, oh! She’s me!!” seruku ketika melihat seorang laki-laki dan perempuan menuruni tangga di sebuah gedung. “Bagaimana selanjutnya? Saya ingin melihatnya!” pikirku sambil terus memperhatikan mereka berdua. Saya bingung dan berkata, “Wah mereka berpisah sambil melambaikan tangan, tetapi mereka tertawa, mungkinkah mereka akan bertemu lagi?” Setelah mereka berpisah, saya melihat sepasang angka, 13, pada dinding gedung tersebut, mungkin menunjukkan nomor lantai? Tiba-tiba saya terbangun dari mimpi yang terasa nyata itu. “Ternyata hanya mimpi, pantas nggak terdengar suaranya,” saya berkata sambil menggelengkan kepala. Mama masuk ke dalam kamar saya seperti biasa dan secara spontan saya menceritakan mimpi tersebut. Hahaha, mama saya hanya mengerutkan dahi.

     “Hmm, gini aja, mami bawa barang yang mau ditukar di S### dan Candhy bawa barang-barang ini ke customer care, jadi nggak buang waktu, ok?” usul saya kepada mama ketika kami harus berurusan dengan waktu yang amat mepet dan beliau setuju. Hehehe. Saya berjalan (cepat) seperti biasa sambil menenteng tas-tas belanja di kedua tangan menuju eskalator, sementara beliau berada tepat di belakang saya. Langkah kaki saya menapaki eskalator terpaksa harus terhenti karena ada tiga orang di depan saya, seorang wanita, seorang anak perempuan, dan seorang pria.  Pria tersebut berambut hitam dan pendek, memiliki kulit putih, tinggi badan ± 180cm, mengenakan kacamata berbingkai warna hitam. Pria tersebut mengenakan kemeja bercorak garis dan celana bahan berwarna hitam serta tas punggung besar berwarna senada. Pria tersebut menoleh dan tersenyum kepada saya, dan saya membalas senyumannya. Saya merasa agak aneh terhadap dirinya, bukan karena penampilan, tetapi saya merasa seperti de javu.

     Oh, well, ternyata kami sama-sama menuju customer care, lol, mama meninggalkan saya bersama pria tersebut di customer care. Saya lega karena customer care-nya sepi pada jam tersebut.  Well, saya tidak sengaja memotong jalan pria tersebut untuk mengambil nomor antrian.
“Oh, maaf, ini nomornya,” kata saya pada pria berkacamata tersebut.
“Oh, tidak apa-apa, silakan,” balas pria tersebut dengan aksen bahasa yang belum pernah saya dengar.
     Saya heran, tapi ya sudahlah, saya menuju sofa dan duduk sambil menunggu nomor antrian. Pria tadi mendekat dan duduk di samping saya, kami pun berbicara ala kadar sambil menunggu antrian. Hehehe. ^-^ Saya merasa topik pembicaraan mencapai puncak, tapi kami harus menyudahinya ketika giliran saya di customer care tiba. Tak lama kemudian, giliran pria tersebut juga tiba. Hanya beberapa menit, pria tersebut meninggalkan loket dan berpamitan kepada saya.
“Hey, see ya,” kata pria tersebut.
“Eh, wait.. Can I have your contact?” tanya saya pelan.
Pria tersebut mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya yang berwarna hitam. saya mengucapkan terima kasih dan pria tersebut pergi sambil melambaikan tangan. Saya membaca sekilas namanya kemudian saya menyimpan kartu nama tersebut. Saya menuju tenant untuk menjemput mama dan kami pulang ke rumah.

     Dalam perjalanan pulang, saya memikirkan pertemuan saya dengan pria tersebut. Bagaimana saya merasa pernah melihatnya, padahal ini pertama kalinya kami bertemu. Saya teringat mimpi yang saya mimpikan semalam dan ternyata a dream comes true. What a coincidence? Lokasi kejadian berada di tangga (eskalator). Penampilan kami dalam mimpi dan realita adalah sama, rambut saya terurai dan pria tersebut mengenakan kacamata berbingkai warna hitam. Saat kami bertemu, rambut saya terurai dan pria berambut hitam tersebut mengenakan kacamatanya. Kami berpisah dan melambaikan tangan satu sama lain. Lalu, misteri angka 13 simple saja saya pecahkan, itu menunjukkan tanggal kapan kami bertemu, 13 Januari 2015. Well, tetapi ada hal yang baru saya sadari. Apabila angka tersebut dipisahkan menjadi 1 dan 3, maka itu akan menjadi urutan kelahiran kami, dia anak pertama dan saya anak ketiga. Hmmm nama kami pun berbeda tapi sama, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, hal ini disebut homofon, memiliki bunyi yang sama, tetapi makna dan tulisan berbeda. Hehehe.
Setelah saya searching, mimpi yang seperti saya alami bernama precognitive dream, yaitu mimpi yang dapat memprediksi masa depan melalui indera keenam (http://www.world-of-lucid-dreaming.com/precognitive-dreams.html), tetapi saya tidak merasa memiliki kemampuan tersebut. Aneh ya? :) 

#mydream #myexperience #justforshare #homofon #can #ken #foretellingdream #precognitivedream